Selasa, 15 Desember 2009

Katakan Aku Cinta Padamu

ade_wiwik26@yahoo.com

Kawan, saat engkau bangun pagi ini, sudahkah engkau katakan cinta bagi
orang-orang terdekat: Istri atau Suami? Ibu, Bapak, Kakek, Nenek, Adik,
Kakak dan kerabatmu?

Belum, mungkin itu jawabmu. Karena di keluargamu tak ada budaya
mengatakan cinta. Hingga kagok terasa bila harus mengungkapkannya.

Boro-boro, barangkali itu katamu. Sedang pagi hari semua harus ke
tampat kerja dan ke sekolah, berpacu dengan waktu. Mana sempat bilang I Love
U?

Kawan, saat bertemu dengan para sahabat hari ini, sudahkah engkau
sampaikan cinta bagi mereka? Semua orang dekat baik di mata maupun di hati?
Semua orang dekat baik karena darah maupun pertalian aqidah?

Tidak! Mungkin begitu tangkismu. Kebersamaanmu dengan mereka lebih
karena tuntutan kerja dan aktifitas, mungkin itu jawabnya.

Tak biasa! Barangkali demikian kau bilang. Toh, obrolan dan jalan
bersama sudah menunjukkan cinta. Hingga ia tak harus diuntai dalam kata.
Sedang sikap dan perhatian lebih menunjukkan rasa yang kau punya untuk
mereka.

Bisa jadi demikian halnya. Namun, alangkah indah jika engkau coba Sabda
kekasihNya.

Dari Abu Karimah Al Miqdad bin Ma’dikariba ra, dari Nabi SAW, beliau
bersabda: “Apabila seseorang mencintai Saudaranya, beritahukanlah
kepadanya bahwa ia mencintainya” (HR Abu Daud)

Dari Anas ra, ia berkata: Ada seorang laki-laki duduk di hadapan Nabi
SAW, kemudian ada seseorang yang lewat di situ, lalu orang yang duduk di
hadapan Nabi berkata: “Ya, Rasulullah, sesungguhnya saya mencintai
orang itu.” Nabi SAW bertanya: “Apakah kamu sudah memberitahukan
kepadanya?” Dia menjawab: “belum.” Beliau bersabda: “Beritahukanlah kepadanya!”
Kemudian dia menemui orang itu dan berkata: “Sesungguhnya saya
mencintaimu karena Allah.” Orang itu menjawab: “Semoga kamu dicintai oleh Zat
yang menjadikanmu mencintaiku karenaNya” (HR Abu Daud)

Kawan, pernahkah engkau mengunjungi kerabat, saudara dan sahabat, hanya
karena engkau ingin mengunjunginya? Semata karena ingin menjalin tali
cinta?

Tidak sempat. Bisa jadi seperti itu alasanmu. Terlalu banyak pekerjaan
dan urusan yang tak mungkin ditinggalkan.

Kawan, pernahkah engkau menelepon ‘hanya’ untuk sekedar bersilaturahmi?
Sekedar menyapa, mendengar suara di seberang sana dan menanyakan
kabarnya?

Ah, tak terpikirkan. Dapat pula itu ungkapmu. Sedang masih banyak nomor
terkait kewajiban menunggu untuk dihubungi.

Mungkin ada baiknya, jika engkau dengar sabda Sang Nabi berikut ini.

Dari Abu Hurairah ra, dari nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada
seseorang akan berkunjung ke tempat Saudaranya yang berada di desa
lain, kemudian Allah ta’ala mengutus malaikat untuk mengujinya. Setelah
malaikat itu berjumpad engannya ia bertanya: “Hendak kemanakah kamu?” Ia
menjawab: “Saya akan berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa
itu.” Malaikat bertanya lagi: “Apakah kamu merasa berhutang budi
padanya sehingga merasa perlu mengunjunginya? Laki-laki itu menjawab: ”Tidak.
Aku mengunjunginya semata karena aku mencintainya karena Allah ta’ala.
Malaikat kemudian berkata: “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk
menjumpaimu, dan Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu
karena Allah (HR Muslim)

Kawan, sudahkah kau jabat tangan saudaramu ketika bertemu? Sudahkah kau
peluk keluargamu hari ini?

Pasti, seperti itu barangkali kau sampaikan. Karena itu telah menjadi
kebiasaan masyarakat.

Bukan, sahabat! Karena ia adalah sesuatu yang disunnahkan. Menjadi
penggugur dosa para pelakunya. Mewujudkan cinta para penghasungnya. Semoga
berita yang dibawa sahabat dari sang pembawa risalah meneguhkanmu.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Nabi SAW mencium Al Hasan bin Ali
ra, kemudian Aqra’ bin Habis berkata: Sesungguhnya saya memiliki sepuluh
anak, tetapi saya tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.” Maka
Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa tidak mengasihi ia tidak akan dikasihi.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata: “Zaid bin Haritsah dtang ke Madinah dan
rasulullah SAW sedangn berada di rumahku, kemudian ia datang dan mengetuk
pintu, lantas Nabi SA bangkit dan menarik kainnya, serta memeluk dan
minciumnya.” (HR Turmudzi)

Dari Al Barra’ ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ dua orang
islam yang bertemu kemudian mereka berjabat tangan maka dosa kedua orang
tersebut diampuni sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Dawud)

Kawan, mengatakan cinta bukanlah tabu, bahkan ia disunnahkan Al
musthafa.. Engkau tidak harus romantis untuk melakukannya. Engkau tidak usah
malu karena merasa sudah bukan masanya. Karena cinta tidak mengenal
usia. Bolehlah ia diungkap oleh anak kepada Bapak dan ibunya, Ayah bunda
pada sang putra, keponakan kepada kerabatnya. Seseorang pada sahabatnya.
Terlebih bagi pasangan hidupnya. Karena cinta adalah bahasa dunia.

Maka, apa yang menghalangimu mengatakan Aku Cinta Padamu hari ini, dan
menunjukkan kasih sayang pada keluarga, saudara, kaum kerabat dan
sahabat?

Katakan Aku Cinta Padamu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar